Kenaikan Harga Pangan Dunia : Peluang atau Ancaman ?

Feryanto W. K

Dunia sekarang sedang memasuki masa-masa yang sulit, hantaman luar biasa dalam bidang ekonomi dan pangan sedang dirasakan oleh hampir seluruh negara di dunia ini. Kekhawatiran para pemimpin dunia akan terjadinya “konflik” akibat kekuarangan dan kelangkaan pangan juga harus diwaspadai dan disikapi dengan bijak, hendaknya ini menjadi sinyalemen dini bagi kewajiban negara dalam memenuhi hak rakyatnya. Bahkan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Domonique Stauss-Khan menyatakan bahwa inflasi yang terjadi pada saat sekarang disebabkan oleh harga pangan yang dalam satu dekade ini mengalami kenaikan hampir mendekati 300-500 persen. Kenaikan ini patut di waspadai karena lebih berbahaya dari sekedar krisis ekonomi, bahkan lebih dari itu kenaikan harga pangan dikhawatirkan akan menyebabkan konflik antar negara untuk mendapatkan sumberdaya murah dalam pemenuhan kebutuhan rakyatnya, bahkan bisa menjadi ’alat’ untuk menjatuhkan rejim yang berkuasa, hal ini tentunya bukan isu  baru lagi, sejarah telah membuktikannya.

Kenaikan harga pangan memang menjadi masalah besar bagi pemerintah diseluruh dunia, termasuk Indonesia sendiri yang sangat merasakan dampak kenaikan harga pangan ini, dimana harga pangan domestik mengalami kenaikan yang luar biasa, disamping tekanan kenaikan harga minyak dunia. Ini tentunya menjadi perhatian serius yang harus segera dicermati dan diantisipasi oleh pemerintah. Agar kekhawatiran yang disampaikan Direktur IMF tersebut tidak terjadi.

Mengapa  Harga Pangan Dunia Naik ?

Tidak bijak jika kita mendiskusikan suatu masalah tanpa menjelaskan mengapa masalah tersebut bisa terjadi. Eskalasi harga pangan dan pertanian yang sampai 500 persen tersebut memang menjadi kekhawatiran termasuk Indonesia sendiri sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Jika kita analisis alasan yang mendasar dalam kenaikan harga pangan dunia tersebut, dapat dikatakan karena enam faktor, dimana faktor (1), Disebabkan fenomena perubahan iklim dunia, yang mana dampak perubahan iklim tersebut akan menyebabkan bergesernya pola musim tanam, bahkan lebih parahnya lagi berdampak pada kesalahan dalam peramalan/prediksi untuk jumlah hasil pertanian yang akan dipanen karena kekeringan dan banjir yang terjadi di hampir sentra-sentra tanaman pangan (terutama di Indonesia). (2) Kenaikan harga pangan disebabkan oleh kenaikan jumlah populasi/jumlah penduduk dunia terutama di negara-negara berkembang yang akan meningkatkan kebutuhan pangan di negara tersebut, karena berdasarkan penelitian yang dilakukan dinegara-negara berkembang dikatakan bahwa Elastisitas pendapatan untuk produk pangan itu masih relatif tinggi, sehingga ketika pendapatan meningkat akan meningkatkan jumlah pangan yang dikonsumsi. Hal ini tentu berbeda dengan negara maju dimana kenaikan jumlah populasinya relatif tidak meningkatkan produksi pangannya, namun lebih meningkatkan dari segi kualitas, sehingga mereka mau membayar lebih mahal untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik. Disamping faktor lain, bahwa kebutuhan komoditas pangan (biji-bijian/cerellia) permintaannya semakin meningkat untuk feet (pakan) ternak, sehingga harga produk biji-bijian (kedelai, jagung, gandum, dll) yang kualitasnya kurang bagus mengalami peningkatan terhadap jumlah yang diminta, karena jumlahnya yang terbatas di pasaran dunia menyebabkan harga terdongkrak naik, hal ini sesuai dengan hukum permintaan dan penawarannya.

Faktor (3) adalah peningkatan permintaan komoditas pangan yang cukup tinggi dan dikonversi sebagai biofuel, hal ini akibat dari meningkatnya harga minyak mentah dunia, sehingga hampir seluruh negara-negara maju dan negara berkembang yang berbasis pertanian berusaha untuk mengembangkan bahan bakar alternatif tersebut. sehingga dengan tingginya permintaan produk biji-bijian tersebut untuk bahan bakar nabati seperti jagung, kedelai dan lainnya maka tak bisa dielakkan lagi harga-harga komoditas tersebut akan merangkak naik. Faktor (4), Lahan pertanian yang semakin sempit. Dimana jika diperhatikan untuk negara-negara maju, lahan pertanian pada saat sekarang sudah sangat terbatas. Negara maju hanya bisa ‘memainkan’ tenologi untuk mendongkrak produktivitas pertanian dengan lahannya yang terbatas. Sedangkan untuk negara-negara berkembang lahan yang masih tercukupi, tetapi masih dibatasi oleh penguasaan teknologi sehingga produktivitas tetap rendah, sehingga produk pangan tetap tidak mampu memenuhi jumlah permintaan yang begitu besar. Untuk Indonesia sendiri, laju konversi lahan pertanian dari tahun ketahun cukup tinggi hampir 1,5% pertahun untuk tahun 2007 saja lahan sawah yang dikonversi untuk sektor lain sebesar 400.000 Ha lebih (Deptan, 2008).

Faktor (5), menipisnya cadangan stok pangan dunia menyebabkan, ketidakmampuan cadangan tersebut mengendalikan kenaikan harga yang terjadi, sebagaimana teori ekonomi mengatakan bahwa stok berfungsi sebagai ‘peredam harga”. Hal ini bisa dimaklumi mengapa jumlah pasokan dunia mengalami penurunan, disebabkan oleh negara-negara produsen seperti Thailand, Vietnam, China dan India menahan hasil produksinya sendiri akibat kebutuhan yang meningkat di negaranya masing-masing. Khusus untuk negara Vietnam, Thailand dan China menahan stoknya karena beberapa bulan lagi mereka akan memasuki masa musim kering. Disisi lain, negara (konsumen) berusaha untuk membeli pangan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya dan cadangan negaranya, seperti yang dilakukan oleh Filipina dan USA. Hal ini mendongkrak kenaikan luar biasa pada harga beras yakni dari US $ 360 per ton menjadi US $ 800 per ton. Sehingga Filipina, ‘agak sedikit memaksa” Vietnam dan Thailand agar mau menjual berasnya dengan murah  ke Filipina. Dan Faktor (6) adalah tindakan para pemilik dana besar (investor) yang beramai-ramai bermain dalam pasar komoditi pertanian, hal ini disebabkan kegagalan Sub-prime mortage (saham pada perusahaan yang menyediakan kredit rumah murah di USA). Tentunya faktor-faktor tersebut merupakan sinyal bagi pembangunan pertanian ke depan bagi ditingkat dunia maupun domestik, yakni Indonesia sendiri. Bahkan World Bank pada tahun 2007/2008 menyampaikan laporannya mengenai Peranan Pertanian Bagi Pembangunan (Agriculture for the development)-lihat laporan Bank Dunia Tahun 2007-, dan menyarankan/menghimbau setiap negara yang memiliki potensi pertanian untuk menjadikan pertanian menjadi basis pembangunan perekonomiannya.

Kenaikan Harga Pangan : Peluang atau Ancaman

Banyak ekonom (bahkan ekonom sekaliber Direktur IMF) menganggap kenaikan harga pangan dunia menjadi ancaman. Hal tersebut bukanlah suatu yang salah dan berlebihan, karena indikasi ke arah tersebut mulai terlihat di beberapa negara-negara berkembang (Development Countries)-Khususnya negara-negara yang berada pada kawasan Sub Sahara-Afrika-. Sebaiknya kita melakukan antisipasi sejak dini untuk bisa mengantisipasi agar kekhawatiran tersebut tidak terjadi. Sejarah Indonesia menunjukkan, hampir setiap pergantian pemimpin di negara ini diakibatkan oleh kenaikan harga pangan-yang diikuti oleh inflasi yang tinggi-lihat pada tahun 1965, 1998 dan 2000. beberapa pakar dan pengamat, mengatakan bahwa (agaknya) kita sudah terlambat jika bergerak untuk memperbaiki sistem pertanian sekarang, sebab sinyal kenaikan harga-harga pangan dunia ini sudah ada sejak 10 tahun yang lalu, tetapi kita belum mampu menangkap-sinyal dini- tersebut, disamping kita masih belum memiliki manajemen/politik yang baik terhadap pengaturan pertanian kita, sehingga pertanian sekarang merupakan sistem pertanian yang disokong oleh sistem pertanian yang dibangun pada era 1970-an (baik irigasi, waduk, situ, jalan raya, dan sistem bercocok tanam). Sebagaimana kita ketahui bahwa infrastruktur pertanian kita merupakan warisan dari orde baru, dan sepertinya kita harus belajar dari Mantan Presiden Soeharto bagaimana menghargai, menempatkan dan mengelola pertanian kita dengan manajemen yang baik, walaupun di era tersebut masih banyak kekurangan-namun, setidaknya sampai sekarang sistem pertanian terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini ada pada era tersebut-. Sehingga, dengan demikian sangat sulit bagi kita untuk merebut momentum yang ada, jika kita tetap pada strategi pembangunan pertanian sekarang ini tanpa ada upaya yang optimal.

Terlepas sikap pesimistis, yang disampaikan oleh beberapa pakar/pengamat tersebut ternyata masih ada angin segar yang dihembuskan oleh pengamat, ekonom dan akademisi yang memiliki sikap optimis terhadap pembangunan pertanian kita, dimana kenaikan harga pangan bisa dijadikan peluang untuk merumuskan strategi baru dalam pembangunan pertanian yang kompatibel dan dapat memanfaatkan momentum yang sesuai dengan perubahaan zaman. Bustanul Arifin (Kompas, 21 April 2008) mengatakan bahwa pembangunan pertanian di Indonesia pada dasarnya sulit terbantahkan, karena sejak Republik ini didirikan sampai sekarang sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang sangat besar dimana kontribusi yang paling ”spektakuler’ ditunjukkan pada saat krisis ekonomi, dimana  sektor pertanian mampu menjadi sektor penyelamat dengan pertumbuhan yang positif sekitar 3-4% dan juga sebagai penghela bagi sektor-sektor lain. Tawaran Strategi baru yang diusulkan oleh Prof. Bustanul Arifin adalah bahwa Pembangunan pertanian yang dilakukan harus tetap berdasarkan pada Research and Development (R&D), Integrasi pembangunan pertanian dengan pembangunan ketahanan pangan dan strategi pengembangan energi berbasis pada pangan/biji-bijian, serta yang terakhir dan sangat penting adalah pembangunan pertanian tersebut hendaknya secara inheren melindungi petani produsen (dan konsumen).

Jika strategi pembangunan tersebut dapat dijalankan dengan konsisten dan  tetap memperhatikan konsep serta perhatian yang serius dalam pembangunan pertanian kita, maka harapan dan cita-cita ahli pertanian bahwa bangsa ini bisa  menjadi produsen utama terhadap tanaman pangan dunia, dan tanaman tropika dengan dukungan sistem agribisnis dan agroindustri yang baik dapat segera terwujud.

Sebagaimana telah disampaikan bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi luar biasa bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Seperti yang dikemukakan Jhonston dan Mellor (1959) dalam Daryanto  bahwa sektor pertanian memiliki lima (5) kontribusi dalam pembangunan, adapun kelima kontribusi tersebut adalah : (a) Sektor pertanian menghasilkan pangan dan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa, (b) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (c) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (d) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (e) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for invesment in other sectors). Sehingga, dapat dikatakan bahwa peranan atau kontribusi pertanian bagi pembangunan ekonomi dalam peningakatan kemakmuran tidak terbantahkan lagi.

Semoga dengan momentum kenaikan harga pangan ini kita lebih memperhatikan sektor pertanian sebagai ”leading sector”, sehingga mampu memberikan insentif bagi pembangunan perekonomian di Indonesia, terutama para pelaku ekonomi yakni petani (produsen), serta konsumen mampu menikmati dengan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi yang berbasiskan pertanian-sehingga tercipta peningkatan daya beli masyarakat-. Disisi lain, pemerintah hendaknya mampu menangkap ini menjadi suatu peluang untuk mewujudkan dan mendukung tiga jalur strategi (triple track strategy) pembangunan, yakni : (1) pro terhadap pertumbuhan ekonomi, (2) pro terhadap penciptaan lapangan pekerjaan-mengurangi pengangguran-, serta (3) pro terhadap pengurangan kemiskinan, dan tentunya hal ini dilakukan dengan konsep pembanguna nasional Revitalisasi Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Wallahu’alam

Daftar referensi :

  1. Perhepi. 2007. Mungkinkah Petani Sejaterah?. Prosiding Konperensi Nasional ke-XV Perhepi. Brihgten Institut. Bogor.
  2. Daryanto, Arief. D. S. Priyarsono, dan Lena Herliana. Dapatkah Pertanian Menjadi mesin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?. Makalah.
  3. Isabella Tsakok.1990. Agriculture Price Policy. Cornell University Press. London
  4. Mellor, Jhon W, Rasidin Ahmed. Agriculture Price Policy for Developing countries.

4.        Arifin, Bustanul. Srategi Baru Pembangunan Pertanian. Kompas. Edisi-21 April 2008.



Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.