Sumber  (berita ini juga dapat dilihat di) : http://news.ipb.ac.id/news/id/943be63bb2b24333c85097d532b92c62/cooperative-entrepreneur-solusi-memajukan-petani.html

Siti Fatimah, adalah salah seorang tokoh penting dalam memajukan Koperasi Unit Desa (KUD) Sri Rejeki di Cilacap Jawa Tengah. Berawal dari kecintaannya dalam mengelola koperasi, melihat KUD Sri Rejeki yang hampir bangkrut waktu itu, membuat Siti tergerak untuk mencoba membangkitkannya kembali.

Tak punya modal sepeserpun, hanya kecintannya saja terhadap koperasi tersebut. Ia melihat ada potensi besar yang dimiliki wilayah Cilacap yang memiliki kebun pisang yang luas ini.
Jiwa Entrepreneurnya muncul, ilmu pengetahuan yang dimiliki Siti di bangku kuliah dibuktikannya.  Ia tidak menyuruh para petani menjual pisang apa adanya di pasar tradisional. Namun, pemikirannya jauh ke depan demi mendapatkan untuk yang berlipat ganda.

Ia menawarkan pisang dalam bentuk bubur kepada salah satu perusahaan makanan bayi di Itali. Hasilnya, mereka tertarik. Tapi satu permasalahan kembali hadir, Siti dan para petani tidak punya modal untuk memenuhi pesanan tersebut. Akhirnya, KUD Sri Rejeki dengan Perusahaan makanan bayi tersebut bernegosiasi, dan diambil kesepakatan, bahwa bahan dasar dibuat di KUD tersebut dengan investasi awal pembelian mesin ditalangi oleh perusahaan tersebut dan KUD Sri Rejeki harus mencicil mesin tersebut.

Harga pisang yang ditawarkan KUD Sri Rejeki jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan menjual di pasar lokal. Karena Ia menawarkannya dengan menggunakan mata uang dollar. KUD Sri Rejeki lebih mudah mendapatkan bahan baku pisang karena KUD menawarkannya dengan harga tinggi kepada petani. Dengan seperti itu bahan baku akan datang sendiri. Bukan itu saja, KUD juga bekerjasama dengan wilayah lain dalam memenuhi pasokan. Bukan hanya di Jawa Barat, bahan baku pisang juga dipasok dari Lampung.

Ini adalah salah satu kisah nyata dari salah seorang yang mengembangkan pertanian dengan cara-cara cooperative entrepreneur. Banyak kisah nyata lainnya dengan konsep pengembangan pertanian dengan cara cerdas ini, misalnya Pengembangan Belimbing Depok oleh Haji Rimin Sumantri melalui Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan, dan Salak Pondoh dari Sleman, Yogyakarta, oleh Surya Agung Saputra, ST.

“Konsep ini telah banyak dipraktikkan, seiring dengan bangkitnya gerakan koperasi di berbagai negara. Fungsi dari wirakoperasi hanya sebagai lokomotif yang menentukan arah dan menentukan kecepatan pergerakan koperasi tersebut,” ujar Pakar Agribisnis dari Departemen Agribisnisn FEM IPB,  Ir Lukman M Baga, MA.Ec, dalam Coffe Morning (23/12) yang  diselenggarakan Bidang Humas SE IPB, dengan tema “Penguatan Agribisnis Indonesia”.

Ir. Lukman mengatakan, cooperative entreupreneur,  atau bisa juga disebut wirakoperasi merupakan bentuk khusus konsep wirausaha. Pada dasarnya cooperative entrepreneur itu adalah pengembangan organisasi petani, dan bersama petani mengembangkan potensi yang ada
“Tidak setiap wirausaha adalah wirakoperasi, tapi setiap wirakoperasi adalah wirausaha. Tidak perlu modal, tenaga kerja dan lahan, karena dengan sendirinya itu akan bergerak. Yang jadi permasalahan konsep ini masih muncul secara alamiah yaitu inisiatif personal bukan by design,” Ujarnya. (man)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.