Tugas Praktikum Ke-VIII

MK. Dasar-Dasar Bisnis

Program Keahlian Manajemen Agribisnis Diploma IPB

”Pengelolaan Produksi dan Operasi dalam Bisnis”

====================================================================================================================

Matakuliah              :     Dasar-Dasar Bisnis

Dosen Praktikum     :     Tim Dosen Matakuliah Dasar-Dasar Bisnis

Tujuan     :    Mahasiswa mampu menjelaskan konsep pengelolaan produksi dan operasional dalam kaitannya menghasilkan barang dan jasa dengan memperhatikan aspek manajemen mutu dalam bisnis.

==========================================================================================================================

Bacalah Dua Artikel berikut yang berjudul ”Mesin 18 pabrik gula segera direvitalisasi”, dan “Mendesak, Revitalisasi Pabrik Gula”, setelah itu diskusikanlah di dalam keleompok Anda dengan menggunakan Pertanyaan analisis berikut ini ;

Pertanyaan Analisis:

  1. Berikan uraian atau penjelasan yang menggambarkan kondisi industri gula?, mengapa perlu di revitasisasi?
  2. Berdasarkan 2 bacaan tersebut, menurut kelompok Anda apa yang dimaksud dengan Produksi dan pengelolaan produksi?. Berikan contoh dari bacaan.
  3. Seberapa penting pengelolaan produksi yang tepat dan efesien, akan memberikan dampak positif bagi perusahaan/industri gula tersebut.
  4. Menurut Kelompok Anda, siapa yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan/proses produksi di suatu perusahaan?, jika dikaitkan terhadap bacaan, siapa yang bertanggung jawab terhadap produksi Gula dan swasembada gula nasional?. Berikan penjelasan.
  5. Berikan kesimpulan dari point (1) sampai dengan point (4) diatas.

=== selamat mengerjakan ===

Catatan : Setiap Kelompok Membuat Makalah dan slide presentasi.

Bacaan I :

Mesin 18 pabrik gula segera direvitalisasi

OLEH YUSUF WALUYO JATI
Bisnis Indonesia (sumber : http://bataviase.co.id/node/256316)

JAKARTA Permesinan 18 pabrik gula segera direvitalisasi setelah melengkapi semua dokumen yang dipersyaratkan oleh Kementerian Perindustrian. Seluruh pabrik itu merupakan calon peserta restrukturisasi industri gula. Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Kemenperin Ansari Bukhari mengatakan hingga saat ini, pihaknya telah melakukan forum konsultasi guna melengkapi dokumen aplikasi program tersebut. “Pendaftaran untuk proyek restrukturisasi pabrik gula ini akan berakhir pada 31 Agustus 2010. Kami harapkan semua calon peserta melengkapi persyaratan yang diperlukan sehingga program itu bisa segera direalisasikan,” katanya seusai rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Selasa malam.

Menurut Ansari, sosialisasi program restrukturisasi permesinan pabrik gula telah dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor. Pada tahun lalu, Kemenperin memonitor seluruh pabrik gula yang mengikuti program restrukturisasi mesin. “Hasil yang terlihat adalah terjadi peningkatan kapasitas eksklusif sebesar 1,52%. Ini adalah kapasitas maksimal yang pernah dicapai. Selain itu, terjadi peningkatan efektivitas giling sebe-sar 1,2% dan peningkatan efisiensi energi uap sebesar 0,09%,” jelasnya. Revitalisasi mesin pabrik gula, kata Ansari, merupakan salah satu program prioritas Kemenperin yang telah mendapatkan dukungan DPR sehingga program ini tetap dilanjutkan pada 2011. Namun, Komisi VI DPR memangkas anggaran program revitalisasi pabrik gula yang diajukan Kemenperin dalam Rencana APBN-P 2010 sebesar 60,41% dari Rp265,2 miliar menjadi hanya Rp 105 miliar. Dengan adanya keputusan tersebut, Komisi VI akan membawa hasil rekapitulasinya kepada Badan Anggaran DPR untuk difinalisasi. Rendahnya anggaran yang disetujui DPR disebabkan oleh proyek revitalisasi pabrik gula baru akan efektif digulirkan pada tahun depan. Pengadaan mesin peralatan produksi untuk program revitalisasi ini akan diberikan kepada PT Barata Indonesia dan PT Boma Bisma Indra (BBI), sementara penanggung jawab kegiatan ini adalah Ditjen ILMTA.

Industri pendukung

Wakil Menteri Perindustrian Alex S.W. Retraubun mengatakan agar swasembada gula tercapai, industri manufaktur pendukungnya harus kuat, terutama untuk permesinan dan perekayasaan dalam negeri. “Barata dan BBI merupakan industri mesin dan peralatanyang sudah berpengalaman dan didedikasikan untuk mendukung produksi mesin dan peralatan pabrik gula,” katanya. Terkait dengan kepastian lahan untuk pendirian sejumlah pabrik gula baru, Kemenperin memastikan lahan untuk pabrik baru mencapai 300.000 hektare. Sebelumnya, pemerintah menargetkan lahan untuk industri gula yang terintegrasi dengan perkebunan tebu mencapai 500.000 ha. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, dalam rapat koordinasi dengan sejumlah lembaga di Kementerian Perekonomian, mengatakan tanah yang akan digunakan untuk industri tebu akan menggunakan lahan provinsi di bawah koordinasi Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Bacaan II :

Mendesak, Revitalisasi Pabrik Gula

UNGARAN – Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jateng, Fatchuddin Rosyidi, meminta pemerintah segera merevitalisasi pabrik gula sebagai salah satu syarat mutlak mewujudkan program swasembada gula pada 2013.  ’’Mesin-mesin peninggalan zaman kolonial di pabrik-pabrik gula sudah tidak efisien,’’ ujarnya di sela-sela Rakor dan Evaluasi Pengelolaan Pertebuan Menuju Swasembada Gula Jawa Tengah pada 2013 di aula Kantor Dinas Perkebunan Jateng Jalan Gatot Subroto, kompleks Tarubudaya, Ungaran, kemarin.

Selain itu, pihaknya meminta pabrik gula menyediakan bibit berkualitas, dana cukup untuk membantu petani, serta kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE) yang tepat waktu dan jumlah. ’’Fasilitas, misalnya pengairan dan jalan dari sawah ke kota, juga perlu ditingkatkan. Kami pun minta harga gula stabil yang menguntungkan produsen, jangan naik-turun seperti sekarang. Kalau itu semua dilaksanakan, insya Allah dalam waktu tiga tahun produksi tebu meningkat dan terwujud swasembada gula Jateng pada 2013,’’ jelasnya.

Sekda Provinsi Jateng, Hadi Prabowo, saat membuka acara tersebut mengakui banyak kendala yang mengadang swasembada gula. Antara lain ada di tingkat on farm (petani) dan off farm (pabrik gula). ’’Kendala on farm, contohnya, dalam pemenuhan bahan baku karena keterbatasan areal serta kualitas bibit kurang memadai. Off farm di antaranya kinerja pabrik gula yang belum optimal,’’ kata Hadi. Tim Teknis Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, lanjut dia, dibentuk Tim Teknis Akselerasi Peningkatan Produksi Gula Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Jateng. Direktur Utama PTPN IX S Hartoyo SE menyatakan ketidakoptimalan kinerja pabrik gula disebabkan masih memakai mesin-mesin peninggalan era kolonial. ’’Misalnya satu pabrik gula sebenarnya cukup menggunakan satu mesin boiler produk terbaru, tetapi saat ini masih menggunakan 13 mesin uzur sehingga tidak efisien,’’ ungkapnya. (H14-27)

Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/28/107411/Mendesak-Revitalisasi-Pabrik-Gula

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.