Tugas Praktikum Minggu Ke-IV

MK. Risiko Agribisnis

Program Sarjana Alih Jenis Agribisnis

Departemen Agribisnis, FEM-IPB

”Identifikasi Risiko”

Dosen Praktikum : Feryanto, SP. M.Si

 =================================================================================================

 

Risiko adalah kerugian yang diperoleh dalam menjalankan suatu aktivitas bisnis.  Pada bidang pertanian, risiko yang dihadapi sangatlah tinggi, banyak  faktor yang dapat dijadikan alasan mengapa pertanian memiliki risiko yang tinggi, diantaranya adalah (1) ketidakpastian akan iklim, (2) adanya organism pengganggu (hama dan penyakit), (3) lahan yang sempit, dan faktor lain. Beberapa jenis  risiko yang dihadapi petani adalah  risiko produksi, risiko harga, risiko kelembagaan, dan lainnya. Untuk mengatakan apakah kerugian tersebut adalah risiko atau tidak, maka kita harus dapat mengidentifikasinya. Mencermati deskripsi singkat diatas, bacalah dengan seksama dua bacaan berikut Petani Masih Bingung (Sbr: Kompas, 19 Juli 2010) dan Hindari Kerugian, Petani Ikat Padi Roboh (Sbr : http://www.solopos.com/2012/karanganyar/hindari-kerugian-petani-ikat-padi-roboh-159984). Lalukanlah analisi dengan menggunakan pertanyaan berikut ini :

  1. Identifikasi bentuk kerugian yang ditanggung petani yang tedapat di dalam bacaan tersebut!.
  2. Berdasarkan point (1) diatas, apakah bentuk kerugian tersebut merupakan risiko?.
  3. Jelaskan bentuk risiko yang dihadapi dan berikan bukti bahwa hal tersebut merupakan risiko yang dihadapi petani!.
  4. Berikan kesimpulan berdasarkan poin (1), (2) dan (3) diatas.

 

Bacaan I :

Petani Masih Bingung

(Sumber : Kompas, 19 Juli 2010)

Jakarta, Kompas – Kegagalan panen akibat banjir dan serangan hama kian sering terjadi dan petani pun semakin bingung menyikapinya. Padahal, mereka memahami bahwa penyebabnya adalah anomali cuaca dan perubahan iklim. Sementara sosialisasi pemerintah agar petani mampu beradaptasi untuk mengurangi risiko diakui belum signifikan. Program pemerintah terkait perubahan iklim justru dititikberatkan pada program mitigasi yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca.

 

Tebalnya lapisan gas rumah kaca di atmosfer telah menyebabkan pemanasan global, sementara perubahan iklim terjadi akibat adanya pemanasan global. Bencana yang menimpa pertanian tersebut mengakibatkan turunnya produksi dan melonjaknya harga akibat spekulasi. Namun, lonjakan harga itu tidak berbanding lurus dengan pendapatan petani yang justru menurun, bahkan ada yang menderita kerugian total. Secara nasional kondisi itu berpotensi mengancam ketersediaan pangan. Perubahan iklim juga berpotensi bencana di bidang kelautan dan kesehatan serta menyebabkan perubahan geografis akibat kenaikan muka air laut dan proses penggurunan akibat kekeringan panjang.

 

Daerah tidak siap

Ketika suatu wilayah terserang bencana gagal panen akibat anomali cuaca, pemerintah setempat ternyata belum siap. Petani mengandalkan kebijakan dari pemerintah provinsi. ”Harus dihasilkan varietas tanaman yang mampu beradaptasi terhadap kekeringan dan genangan tinggi akibat perubahan iklim,” kata Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat Entang Sasraatmaja, Minggu (18/7) di Bandung. Dia mengatakan, perubahan perilaku iklim yang kian sulit diprediksi seharusnya sudah diantisipasi pemerintah sejak lama. Upaya yang bisa dilakukan antara lain menghasilkan varietas unggul dengan produktivitas tinggi. Selain itu, pemerintah provinsi juga harus mulai memikirkan teknik budidaya dan strategi tanam baru yang dapat melindungi dan menghindarkan tanaman dari kondisi iklim ekstrem. Rekayasa pelindung tanaman dengan bahan baku lokal dan murah perlu dikembangkan.

 

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar Endang Suhendar. Menurut dia, rata-rata kumulatif lahan yang puso akibat serangan organisme pengganggu tanaman lima musim kemarau terakhir seluas 621 hektar. ”Badan Pusat Statistik meramalkan produksi padi Jabar 2010 mencapai 10,93 juta ton, turun 3,1 persen dibanding realisasi tahun lalu yaitu 11,28 juta ton. Salah satu alasannya adalah berkurangnya luas panen dan serangan hama akibat anomali cuaca,” kata Endang. Dari Indramayu, Jawa Barat, dilaporkan, tanaman cabai merah, bawang merah, tomat, dan kentang banyak yang gagal panen karena serangan hama. Ketua HKTI Kabupaten Bandung Hans Sambas mengatakan, ”Tikus dan wereng suka tinggal di daerah lembab. Dengan hujan yang tidak kunjung henti, jenis hama tanaman itu merajalela.” Ketua Harian Dewan Hortikultura Nasional Benny A Kusbini di Indramayu mengatakan, tingkat kegagalan panen petani sayur beragam, 30 persen-100 persen. Ia menegaskan, hampir semua petani sayur di Jawa gagal panen karena hujan terus.

 

Utamakan mitigasi

Menanggapi dampak negatif pada pertanian di sejumlah daerah itu dibutuhkan program adaptasi. Sementara itu, Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Agus Purnomo di Jakarta menyatakan, pembaruan rencana aksi adaptasi tersendat lantaran Indonesia mengedepankan rencana aksi mitigasi perubahan iklim yang berorientasi kepada upaya penurunan emisi gas rumah kaca, bukan mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim. Menurut Agus, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menyusun sejumlah rencana adaptasi perubahan iklim di berbagai bidang, melalui penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) dalam Menghadapi Perubahan Iklim. ”Itu disusun tahun 2007. Seharusnya diperbarui karena saat penyusunan banyak yang kita belum tahu dan banyak keputusan baru yang akan memengaruhi,” kata Agus. Menurut dia, dunia internasional memang lebih memerhatikan upaya mitigasi karena tidak ingin perubahan iklim semakin memburuk. Mitigasi juga lebih diutamakan karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada September 2009 berkomitmen sukarela, Indonesia menurunkan emisinya 26 persen dari kondisi normal pada tahun 2020. Karena kalah bergaung dibandingkan mitigasi, pendanaan internasional untuk program adaptasi pun sangat sedikit. ”Sementara, tidak ada cukup perhatian di dalam negeri karena belum dianggap serius,” kata Agus.

 

Pernyataan itu dikuatkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) Rizaldi Boer yang sering berdialog dengan masyarakat daerah. ”Pemahaman daerah akhirnya mengarah ke mitigasi, karena trennya demikian. Rupanya tidak ada informasi yang cukup tentang apa itu adaptasi sehingga daerah tidak paham.” Pada Desember 2009, DNPI dan KLH menyelesaikan penyusunan Informasi Tematik Antisipasi Perubahan Iklim terhadap Isu Prioritas Nasional Bidang Pangan, Kesehatan, dan Fenomena Iklim Ekstrem. Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan KLH Masnellyarti Hilman mengakui, dokumen RAN yang disusun 2007 tidak cukup merinci langkah adaptasi di lapangan. ”Dokumen itu bersifat umum dan nasional, dan harus diterjemahkan menjadi kajian risiko dan adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal,” kata Masnellyarti di Jakarta, Jumat. Rizaldi sepakat, ”Basis kerja adaptasi ada di daerah. Caranya, di antaranya dengan penguatan pelembagaan di level lokal yang berbicara tentang proses pemanfaatan informasi iklim sampai ke tataran operasional. Kalender tanam sudah ada hingga tingkat kecamatan, namun tidak operasional di tingkat lapangan. Agar dapat dioperasionalkan, perlu sekolah lapang. Namun, sumber daya yang bisa membuat modul-modul untuk itu amat minim.” Padahal, persoalan setiap daerah berbeda; pola tanamnya berbeda, pola iklimnya pun berbeda. ”Harus diatur secara jelas, siapa melakukan apa, dan harus jelas prosedur standar operasionalnya,” katanya.

 

 

Bacaan II:

Hindari Kerugian, Petani Ikat Padi Roboh

Petani di Jaten dan Tasikmadu ramai-ramai mengikat batang padi untuk mengurangi kerugian besar akibat tanaman padi roboh diterjang hujan disertai angin kencang, Minggu (5/2/2012). Petani yang ditemui Solopos.com mengaku rugi hingga jutaan rupiah akibat kejadian itu. Petani Bulu, Jaten, Rigun, 33, mengatakan hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Karanganyar pada Sabtu kemarin menyebabkan tanaman padi miliknya roboh. Bahkan nyaris seluruh tanaman padi yang  masih belum berisi roboh.

“Tinggal sisa sedikit yang tidak roboh dan sudah diikat. Padi yang roboh dan bisa diselamatkan diikat juga,” tuturnya. Rigun mengatakan langkah mengikat tanaman padi dilakukan untuk mengurangi kerugian yang cukup besar. Apalagi tanaman padi miliknya yang roboh belum bisa dipanen. Sehingga harus tetap ditegakkan kembali dengan diikat agar siap dipanen.

“Kalau tidak seperti ini (diikat-red) ruginya tambah besar. Wong ini masih pada kopong,” ujarnya. Dalam kondisi normal, dia menuturkan sekali panen bisa mencapai Rp10 juta. Namun dalam kondisi seperti itu, dia menambahkan kemungkinan besar hanya mencapai Rp8 juta. Rata-rata usia tanaman padi yang roboh berkisar antara 60 hingga 70 hari.

Petani Tasikmadu, Mulyono, 42, mengaku mengalami kerugian baik tenaga maupun materi. Untuk biaya ikat harus mengeluarkan tambahan sekitar Rp 300.000– Rp 400.000 per petak. Setidaknya, dia mengatakan ada puluhan hektare tanaman padi yang roboh diterjang hujan deras disertai angin kencang tersebut. Tanaman padi miliknya yang roboh berusia 3,5 bulan. Padahal  masa panen padi sekitar umur 4 bulan. ”Sebagian kami ikat, sebagian terpaksa kami panen dini. Kalau tidak, maka akan membusuk,” katanya.

Ditambahkan petani lain, Kirdi, 37, jika tidak segera dipanen, nasib petani akan semakin terpuruk. Keputusannya memanen padinya lebih awal merupakan pilihan terakhir. ”Tidak mungkin mempertahankan padi yang ambruk. Bila itu dilakukan risiko yang ditanggung semakin besar,” katanya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/karanganyar/hindari-kerugian-petani-ikat-padi-roboh-159984

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.